|
Roman ini adalah karya Haji Abdul Malik Karim Abdullah atau lebih dikenal dengan Hamka. Roman yang sarat dengan ajaran islam diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka tahun 1930. Roman ini menceritakan tentang kasih tak sampai karena perbedaan status social. Alur cerita dalam cerita ini merupakan sorot balik (flashback) karena tokoh cerita dikisahkan oleh aku sebagai pencerita. Aku mengisahkan peristiwa yang dialami oleh tokoh utama. Pada tahun 1927 aku berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji ke mekah. Disana aku bertemu dengan seorang pemuda yang berasal dari Padang juga, bernama Hamid. Pemuda ini nampaknya terpelajar dan saleh, tetapi wajahnya menunjukkan adanya suatu masalah yang tidak dapat di pecahkannya. Kekariban kami menyebabkan Hamid akhirnya mau mengungkapkan latar belakang kehidupannya semasa di tanah air. Beginilah ceritanya : Hamid adalah seorang anak yatim yang hanya hidup dengan ibunya yang miskin. Untuk membantukehidupan ibunya, Hamid terpaksa berhenti sekolah dan mencari uang dengan berjualan kue. Dalam menjalankan pekerjaannya menjajakan kue inilah, Hamid berkenalan dengan Haji Ja’far yang mempunyai seorang anak perempuan bernama Zainab. Karena melihat ketelantaran anak itu, maka haji Ja’far sanggup membiayai sekolah Hamid. Begitulah Hamid akhirnya berhenti jualan kue dan kembali sekolah. Kebetulan Zainab juga satu sekolah dengan Hamid meskipun lebih muda, sehingga pergi dan pulang sekolah selalu bersama. Hamid dan Zainab sudah seperti kakak beradik. Mengingat kebaikan haji Ja’far, maka ibu Hamid dan Hamid sendiri seringkali dengan sukarela membantu dirumah haji Ja’far. Beberapa tahun kemudian Hamid dan Zainab mencapai usia akil balik. Karena Zainab sudah akil balik, maka menurut adat dia harus berhenti sekolah. Sedang Hamid masih dapat melanjutkan sekolahnya. Namun sekolah Hamid yang lebih tinggi hanya ada di Padang Panjang. Hamid terus melanjutkan sekolah agamanya di kota tersebut dengan biaya haji Ja’far. Sedangkan Zainab masuk pingitan sampai dating orang melamar. Tiba-tiba haji Ja’far meninggal dunia karana usianya. Hamid tak ada lagi yang membiayai sekolahnya, akibatnya Hamid harus menghentikan pendidikannya. Sementara itu hubungan Hamid dan Zainab sekarang bukan sebagai adik kakak lagi, tetapi sudah menginjak hubungan percintaan, meskipun keduanya membisu dan tak pernah mengungkapkannya dalam kata-kata. Setelah mendengar berita kematian haji Ja’far, Hamid segera pulang ke Padang. Dalam perjumpaannya dengan keluarga almarhum haji Ja’far, Hamid dapat merasakan adanya api cinta di mata Zainab terhadapnya. Namun gelora cinta itu tetap hanya dipendam dalam hati masing-masing. Tidak lama kemudian ibu Hamid jatuh sakit. Dan sebelum meninggal dunia, ibu ini berpesan kepada anaknya agar tidak melangkah lebih jauh dalam mencintai Zainab. Lebih baik Hamid memutuskan segera rasa cintanya kepada Zainab. Alasan yang dikemukakan ibu Hamid adalah karena keluarga Zainab pernah menolongnya, dan lagi pula keluarga Zainab adalah keluarga kaya raya sedangkan keluarganya miskin. Setelah ibunya meninggal dunia, Hamid seringkali mengasingkan diri. Pada suatu kali dia bertemu dengan ibu Zainab yang telah lama tidak menjumpainya. Hamid diminta oleh ibu Zainab untuk dating kerumahnya. Ketika Hamid dating, ia menju8mpai Zainab sedang seorang diri saja dirumah. Dalam kekosongan rumah itu keduanya berbincang-bincang dengan asyik. Ketika Hamid terdorong oleh rindu dendamnya, ingin menanyakan kepada Zaionab apakah masih terus ingat padanya, tiba-tiba ibu Zainab dating. Gadis itu hampir saja menyatakan rasa cintanya kepada Hamid, namun tak sampai terucapkan karena kedatangan ibunya itu. Ibu Zainab menyuruh Hamid datang kerumah, ternyata memang ada perkara yang hendak dibicarakannya, yakni perkara lamaran terhadap Zainab. Salah seorang keponakannya melamar Zainab, tetapi Zainab rupanya tidak cocok, sehingga ibunya meminta jasa baik Hamid agar mau membujuk “adiknya” untuk menerima lamaran itu. Alasan ibu Zainab memaksa anak gadisnya menerima lamaran itu agar harta kekayaan almarhum haji Ja’far tidak jatuh ke tangan orang lain, melainkan ke tangan keluarga sendiri. Dengan berat hati Hamid menjalankan desakan ini. Hamid mendorong kekasihnya ini itu agar mau menerima lamaran. Karena hancur hatinya kehilangan gadis yang dicintainya secara diam-diam tetapi sangat mendalam itu, Hamid memutuskan untuk meninggalkantanah kelahirannya. Berkat bantuan seorang ulama ia dapat meninggalkan Indonesia dan pergi ke tanah Saudi Arabia. Sepeninggal Hamid, Zainab juga hancur hatimya. Dan ia menolak paksaan ibunya untuk menikah dengan pemuda kerabatnya yang tak dicintainya itu. Untung calon suaminya memahami dan akhirnya mengundurkan diri. Di Mekah inilah Hamid mengetahui seluruh riwayat Zainab sepeninggalnya dari Indonesia. Ketika seorang pemuda Indonesia bernama Saleh yang sedang belajar di Mesir melakukan perjalanan pulangnya ke Indonesia, dan dia sempat mampir di perkaemahan kami, diketahuinyalah bahwa Zainab masih sangat mencintai Hamid. Ungkapan perasaan cinta Zainab ini ditulis dalam salah satu surat isteri Saleh yang bersahabat dengan Zainab. Namun sebelum percintaan ini dapat dilanjutkan kembali, diterima kabar bahwa Zainab telah mendahului meninggal dunia akibat tak kuat menanggung beban asmara yang telah lama ditanggungnya. Perasaan Hamid hancur dan nampak badannya makin melemah. Begitulah setelah kami selesai melakukan ibadah, di tengah doa ribuan umat, di bawah lindungan ka’bah, Hamid meninggal dunia.*** |